
Inflasi Mei 2026 Masih Dalam Batas Aman
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2 Juni 2026 menunjukkan bahwa inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month). Angka ini mengalami kenaikan dibanding April 2026 yang sebesar 0,13 persen, namun masih berada dalam rentang yang dinilai sehat bagi perekonomian nasional.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi berada di level 3,08 persen. Sementara inflasi tahun kalender Januari hingga Mei 2026 mencapai 1,35 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa berbagai tekanan harga yang terjadi sepanjang semester pertama tahun ini belum mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Di tengah meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan dan energi, Indonesia masih mampu menjaga inflasi dalam kisaran yang terkendali.
Kondisi ini menjadi sinyal positif bahwa kebijakan pengendalian harga yang diterapkan pemerintah mampu bekerja secara efektif dalam melindungi daya beli masyarakat.
Gejolak Harga Pangan Berhasil Diredam
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi Mei 2026 dengan kontribusi sebesar 0,12 persen terhadap inflasi nasional.
Kenaikan harga paling menonjol terjadi pada cabai merah yang mengalami inflasi sebesar 25,64 persen dan memberikan andil 0,08 persen terhadap inflasi umum. Selain itu, bawang merah naik 6,65 persen dengan andil 0,04 persen, tomat meningkat 9,82 persen dengan andil 0,03 persen, serta minyak goreng mengalami inflasi 2,87 persen.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh menurunnya produksi di sejumlah sentra pertanian utama seperti Garut, Temanggung, dan Malang akibat cuaca ekstrem, kekeringan, serta serangan organisme pengganggu tanaman.
Meski demikian, tekanan tersebut tidak berkembang menjadi lonjakan harga yang lebih luas karena masih ditopang oleh ketersediaan pasokan komoditas lain.
Daging ayam ras justru mengalami deflasi sebesar 3,83 persen dengan andil minus 0,06 persen. Telur ayam ras turun 5,14 persen dengan andil minus 0,05 persen, sementara bawang putih mengalami penurunan harga sebesar 3,06 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pasokan pangan nasional masih cukup kuat dalam menjaga keseimbangan harga di tengah gangguan produksi pada beberapa komoditas hortikultura.
Tekanan Energi dan Transportasi Tidak Mengganggu Stabilitas Harga
Selain sektor pangan, inflasi Mei 2026 juga dipengaruhi oleh kenaikan biaya energi dan transportasi.
Penyesuaian harga LPG nonsubsidi sekitar 19 persen yang dilakukan sejak April 2026 serta meningkatnya harga avtur di berbagai bandara domestik menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan biaya transportasi.
Kelompok transportasi tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen. Tarif angkutan udara meningkat 2,75 persen, solar naik 4,22 persen, pelumas kendaraan bertambah 3,85 persen, dan biaya pemeliharaan kendaraan naik 0,70 persen.
Meski terdapat kenaikan pada sejumlah komponen tersebut, dampaknya terhadap inflasi nasional masih tergolong terbatas.
Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme penyesuaian harga yang dilakukan pemerintah berjalan secara bertahap sehingga tidak menimbulkan gejolak yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
Di tengah fluktuasi harga energi dunia, kemampuan menjaga dampak kenaikan biaya transportasi tetap terkendali menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan stabilitas ekonomi nasional.
Inflasi Inti yang Rendah Menjadi Sinyal Positif
Salah satu indikator penting dalam menilai kondisi ekonomi adalah inflasi inti (core inflation), karena mencerminkan tekanan harga yang lebih permanen.
Pada Mei 2026, inflasi inti tercatat hanya sebesar 0,22 persen dengan andil 0,14 persen terhadap inflasi nasional. Komoditas yang memberikan kontribusi antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop, pelumas kendaraan, nasi dengan lauk, serta biaya pemeliharaan.
Rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini belum menyebar secara luas ke berbagai sektor ekonomi.
Sementara itu, kelompok harga bergejolak (volatile food) hanya mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil 0,04 persen. Angka ini tergolong rendah mengingat adanya gangguan produksi pada sejumlah komoditas pangan selama Mei 2026.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga yang muncul masih dapat dikendalikan dan belum menimbulkan risiko inflasi yang lebih besar di masa mendatang.
Deflasi Emas Perhiasan Membantu Menahan Laju Inflasi
Faktor menarik lainnya dalam data Mei 2026 adalah terjadinya penurunan harga emas perhiasan yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat deflasi sebesar 0,74 persen dengan andil minus 0,05 persen terhadap inflasi nasional. Penyebab utamanya adalah turunnya harga emas perhiasan sebesar 2,67 persen.
Penurunan tersebut sejalan dengan melemahnya harga emas dunia yang turun dari level US$5.019,97 per troy ounce menjadi sekitar US$4.587,21 per troy ounce pada Mei 2026.
Deflasi pada komoditas emas memberikan kontribusi positif dalam meredam tekanan inflasi yang berasal dari kelompok pangan dan energi.
Fondasi Ekonomi yang Kuat Menjadi Penyangga Stabilitas
Keberhasilan menjaga inflasi tidak terlepas dari kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.
BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus sebesar US$0,09 miliar pada April 2026. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.
Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen.
Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 meningkat menjadi 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan April 2026.
Peningkatan NTP menunjukkan bahwa kesejahteraan petani mengalami perbaikan karena pendapatan yang diterima meningkat lebih tinggi dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.
Kombinasi surplus perdagangan, stabilitas nilai tukar rupiah, serta membaiknya kondisi petani menjadi fondasi penting yang menopang stabilitas harga di dalam negeri.
Inflasi Terkendali Menjadi Bukti Ketahanan Ekonomi Nasional
Data inflasi Mei 2026 menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadapi berbagai tekanan ekonomi tanpa kehilangan kendali terhadap stabilitas harga.
Kenaikan harga energi global, gangguan produksi pertanian, penyesuaian harga LPG nonsubsidi, hingga kenaikan tarif transportasi tidak berkembang menjadi lonjakan inflasi yang membebani masyarakat.
Keberhasilan ini mencerminkan efektivitas koordinasi kebijakan pemerintah dalam menjaga pasokan pangan, mengendalikan distribusi barang, serta memastikan stabilitas harga tetap terjaga.
Bagi masyarakat, inflasi yang terkendali berarti lebih dari sekadar angka statistik. Stabilitas harga memberikan kepastian ekonomi, menjaga daya beli rumah tangga, dan menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Di tengah tantangan global yang masih berlangsung, capaian inflasi 0,28 persen pada Mei 2026 menjadi bukti bahwa ekonomi Indonesia tetap memiliki ketahanan yang kuat dan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
.png)



.jpeg)









